Selasa, 24 Mei 2011

Mars (part 06)



Mereka bertiga sampai di depan apartemen hye na. karna hye na tak menjawab belnya, kyuhyun yang tau kode apartemen hye na langsung menekan tombolnya dan pintupun terbuka. “aku akan menyuruh hye na mengganti passwordnya. Mengapa kau tahu semua tentang hye na sih?” tanya donghae penasaran. “omo~~ siapa kau berkata seperti itu?” jawab kyuhyun.

Mereka masuk ke apartemen hye na, namun tak ada tanda-tanda hye na berada di apartemennya. Donghae memungut jaket yang dipakai hye na saat bertemu dengannya. “ini jaket yang tadi malam ia pakai saat menemuiku.” Kata donghae.

“kalian bertemu malam-malam?” soo won mencibir donghae. “lihat ini. tas hye na. isinya pelajaran hari ini.” kyuhyun kali ini memperlihatkan tas hye na.

soo won melihat ke arah kamar hye na. “mungkin ia di dalam kamarnya?” tanya soo won sambil berjalan ke arah kamar hye na. ia mebuka pintu kamar hye na dan kecewa tak menemukan hye na. ia kembali ke ruang tamu, namun berhenti didepan lemari buku hye na. handphone hye na masih tergeletak di  lemari itu. ia menekan salah satu tombol, layar handphone hye na menyala dan terlihat pesan dari donghae.

“apa hye na pernah pergi dan tidak membawa handphonenya?” tanya soo won mengacungkan handphone hye na. “tidak, handphone dan ipodnya selalu standby ditangannya.” Kyuhyun yang menjawab.

Donghae mengambil handphone hye na dan pergi meninggalkan apartemen hye na tanpa pamit ke kyuhyun ataupun soo won. Kyuhyun dan soo won saling pandang. Mereka memutuskan untuk mencari petunjuk hilangnya hye na. namun hasilnya nihil. Kyuhyun membawa pulang laptop hye na, ia akan memeriksa laptop hye na nanti. Mereka pun meninggalkan apartemen hye na.

*Disuatu tempat yang asing untuk hye na, ia tebangun dari tidurnya. Ia membuka perlahan matanya dan tidak menemukan langit-lagit kamarnya yang biasa. Ia duduk dan memegangi kepalanya yang sangat sakit. Ares duduk di pinggir tempat tidurnya. “Ares, apa yang kau lakukan disini? Dimana ini?” tanya hye na.

Ares menatap hye na lembut. “Kau tak ingat ini dimana?” tanya ares mengacuhkan pertanyaan hye na. “tidak. Aku ingin pulang ke apartemenku.” Pinta hye na. ares menatap bingung. “Irish, harusnya kau sudah tidak ingat pada dunia hye na.” katanya lembut sambil mengusap pipi hye na.

Hye na mengelak dari belaian ares. “apa maksudmu ares? Aku kim hye na. bukan Irish.”.

“apa? Tidak mungkin. Kekutanmu sudah kembali. Mengapa kau tak ingat pada dirimu?” ares bersikeras pada hye na.

Hye na bangkit dan melangkah keluar. “dimana ini?” tanya hye na. ares masih diam dengan pikirannya. “ya! Dewa ares! Aku bertanya padamu!” kesabaran hye na sudah pada batasnya.

Ares mendekati hye na dan menyentuh kening hye na. dalam sekejap mereka kembali ke tengah kamar hye na.

Hye na meninggalkan ares dikamarnya yang masih terdiam. Kamarnya masih seperti biasa. Hanya laptop dan handphonenya yang hilang. Hye na berkeliling mencarinya. “dimana handphone dan laptop ku?” hye na bertanya pada dirinya sendiri.

Ares keluar dari kamar hye na, menatap hye na sedih. “kau melihat handphone dan laptop ku? Mereka tidak ada dimana pun. Sudah berapa lama aku pergi?” tanya hye na pada ares.

Ares menggeleng. “kau hanya pergi selama dua hari.” Jawab ares. Hye na melongo mendengar jawaban ares. “dua hari? Dan selama itu aku tidak bersekolah? Donghae pasti khawatir padaku. Aigoo~ dimana handphone ku disaat seperti ini.” Hye na berkata tanpa henti.

“maaf aku membawamu pergi. Tapi mereka tahu aku telah menemukan mu Irish. Mereka mencarimu.” Ares meminta maaf dan menjelaskan mengapa ia membawa hye na pergi.

“berhenti memanggil ku irish. Mengerti? Aku akan menelpon temanku dan aku tak ingin kau berisik memanggil ku irish!” perintah hye na.

Hye na berjalan menuju teleponnya dan menekan nomor handphonenya berharap handphone itu terselip disuatu tempat di apartemennya. Namun tak ada musik yang mengalun malah seseorang menjawab teleponnya.

“annyeong. Yeoboseyo?” sapa seseorang disana. “donghae? jagiya?” tanya hye na.

“hye na? kau kah itu?” tanya donghae. “dari mana saja kau? Aku sangat khawatir mencarimu. Kau ada dimana? Aku kesana sekarang.”

“mianhae donghae. Aku ada di apartemenku. Mengapa handphoneku ada padamu?”

“aku akan menjelaskan nanti. Aku segera ketempatmu. Tunggu aku dan jangan kemana-mana.” Donghae mematikan telponnya.

Tiga puluh menit kemudian ia sudah berada di apartemen hye na. hye na telah mandi dan berganti pakaian. Sebenarnya ia tak tahu harus menjawab apa pertanyaan donghae nanti. Tapi ia ingin bertemu dengan donghae. Hanya itu saja.

Hye na mempersilahkan donghae masuk yang langsung memeluk hye na. ares telah pergi selama hye na mandi. “kau tau betapa aku mengkhawatirkanmu kim hye na? pergi kemana kau tanpa meninggalkan pesan!” suara donghae penuh kekhawatiran yang tak ia tutupi lagi.


Hye na tak menjawab hingga donghae melepas pelukannya dan menatap hye na bingung. Hye na menangis. Ia tak dapat menahan air matanya lebih dari semua kejadian tak masuk akal ini. donghae mengajak hye na duduk di sofa. Donghae menggenggam tangan hye na erat dan hangat. Hye na masih terdiam begitu juga donghae, donghae pun kembali memeluk hye na yang masih menangis.

“aku tidak tahu harus memulai dari mana. Bukan aku tak ingin mengatakannya. Aku hanya.. hanya.. belum siap untuk mengatakan apa yang terjadi.” Hye na terbata-bata mengatakannya.

“baiklah, aku mengerti dan tidak akan memaksamu.” Jawab donghae dengan senyumnya.

sementara sepasang mata memandang mereka dari balik jendela.

0 comment:

Posting Komentar

Mars (part 06)



Mereka bertiga sampai di depan apartemen hye na. karna hye na tak menjawab belnya, kyuhyun yang tau kode apartemen hye na langsung menekan tombolnya dan pintupun terbuka. “aku akan menyuruh hye na mengganti passwordnya. Mengapa kau tahu semua tentang hye na sih?” tanya donghae penasaran. “omo~~ siapa kau berkata seperti itu?” jawab kyuhyun.

Mereka masuk ke apartemen hye na, namun tak ada tanda-tanda hye na berada di apartemennya. Donghae memungut jaket yang dipakai hye na saat bertemu dengannya. “ini jaket yang tadi malam ia pakai saat menemuiku.” Kata donghae.

“kalian bertemu malam-malam?” soo won mencibir donghae. “lihat ini. tas hye na. isinya pelajaran hari ini.” kyuhyun kali ini memperlihatkan tas hye na.

soo won melihat ke arah kamar hye na. “mungkin ia di dalam kamarnya?” tanya soo won sambil berjalan ke arah kamar hye na. ia mebuka pintu kamar hye na dan kecewa tak menemukan hye na. ia kembali ke ruang tamu, namun berhenti didepan lemari buku hye na. handphone hye na masih tergeletak di  lemari itu. ia menekan salah satu tombol, layar handphone hye na menyala dan terlihat pesan dari donghae.

“apa hye na pernah pergi dan tidak membawa handphonenya?” tanya soo won mengacungkan handphone hye na. “tidak, handphone dan ipodnya selalu standby ditangannya.” Kyuhyun yang menjawab.

Donghae mengambil handphone hye na dan pergi meninggalkan apartemen hye na tanpa pamit ke kyuhyun ataupun soo won. Kyuhyun dan soo won saling pandang. Mereka memutuskan untuk mencari petunjuk hilangnya hye na. namun hasilnya nihil. Kyuhyun membawa pulang laptop hye na, ia akan memeriksa laptop hye na nanti. Mereka pun meninggalkan apartemen hye na.

*Disuatu tempat yang asing untuk hye na, ia tebangun dari tidurnya. Ia membuka perlahan matanya dan tidak menemukan langit-lagit kamarnya yang biasa. Ia duduk dan memegangi kepalanya yang sangat sakit. Ares duduk di pinggir tempat tidurnya. “Ares, apa yang kau lakukan disini? Dimana ini?” tanya hye na.

Ares menatap hye na lembut. “Kau tak ingat ini dimana?” tanya ares mengacuhkan pertanyaan hye na. “tidak. Aku ingin pulang ke apartemenku.” Pinta hye na. ares menatap bingung. “Irish, harusnya kau sudah tidak ingat pada dunia hye na.” katanya lembut sambil mengusap pipi hye na.

Hye na mengelak dari belaian ares. “apa maksudmu ares? Aku kim hye na. bukan Irish.”.

“apa? Tidak mungkin. Kekutanmu sudah kembali. Mengapa kau tak ingat pada dirimu?” ares bersikeras pada hye na.

Hye na bangkit dan melangkah keluar. “dimana ini?” tanya hye na. ares masih diam dengan pikirannya. “ya! Dewa ares! Aku bertanya padamu!” kesabaran hye na sudah pada batasnya.

Ares mendekati hye na dan menyentuh kening hye na. dalam sekejap mereka kembali ke tengah kamar hye na.

Hye na meninggalkan ares dikamarnya yang masih terdiam. Kamarnya masih seperti biasa. Hanya laptop dan handphonenya yang hilang. Hye na berkeliling mencarinya. “dimana handphone dan laptop ku?” hye na bertanya pada dirinya sendiri.

Ares keluar dari kamar hye na, menatap hye na sedih. “kau melihat handphone dan laptop ku? Mereka tidak ada dimana pun. Sudah berapa lama aku pergi?” tanya hye na pada ares.

Ares menggeleng. “kau hanya pergi selama dua hari.” Jawab ares. Hye na melongo mendengar jawaban ares. “dua hari? Dan selama itu aku tidak bersekolah? Donghae pasti khawatir padaku. Aigoo~ dimana handphone ku disaat seperti ini.” Hye na berkata tanpa henti.

“maaf aku membawamu pergi. Tapi mereka tahu aku telah menemukan mu Irish. Mereka mencarimu.” Ares meminta maaf dan menjelaskan mengapa ia membawa hye na pergi.

“berhenti memanggil ku irish. Mengerti? Aku akan menelpon temanku dan aku tak ingin kau berisik memanggil ku irish!” perintah hye na.

Hye na berjalan menuju teleponnya dan menekan nomor handphonenya berharap handphone itu terselip disuatu tempat di apartemennya. Namun tak ada musik yang mengalun malah seseorang menjawab teleponnya.

“annyeong. Yeoboseyo?” sapa seseorang disana. “donghae? jagiya?” tanya hye na.

“hye na? kau kah itu?” tanya donghae. “dari mana saja kau? Aku sangat khawatir mencarimu. Kau ada dimana? Aku kesana sekarang.”

“mianhae donghae. Aku ada di apartemenku. Mengapa handphoneku ada padamu?”

“aku akan menjelaskan nanti. Aku segera ketempatmu. Tunggu aku dan jangan kemana-mana.” Donghae mematikan telponnya.

Tiga puluh menit kemudian ia sudah berada di apartemen hye na. hye na telah mandi dan berganti pakaian. Sebenarnya ia tak tahu harus menjawab apa pertanyaan donghae nanti. Tapi ia ingin bertemu dengan donghae. Hanya itu saja.

Hye na mempersilahkan donghae masuk yang langsung memeluk hye na. ares telah pergi selama hye na mandi. “kau tau betapa aku mengkhawatirkanmu kim hye na? pergi kemana kau tanpa meninggalkan pesan!” suara donghae penuh kekhawatiran yang tak ia tutupi lagi.


Hye na tak menjawab hingga donghae melepas pelukannya dan menatap hye na bingung. Hye na menangis. Ia tak dapat menahan air matanya lebih dari semua kejadian tak masuk akal ini. donghae mengajak hye na duduk di sofa. Donghae menggenggam tangan hye na erat dan hangat. Hye na masih terdiam begitu juga donghae, donghae pun kembali memeluk hye na yang masih menangis.

“aku tidak tahu harus memulai dari mana. Bukan aku tak ingin mengatakannya. Aku hanya.. hanya.. belum siap untuk mengatakan apa yang terjadi.” Hye na terbata-bata mengatakannya.

“baiklah, aku mengerti dan tidak akan memaksamu.” Jawab donghae dengan senyumnya.

sementara sepasang mata memandang mereka dari balik jendela.

0 komentar:

Posting Komentar

 
. Blogger Template by Ipietoon Blogger Template