genre : Romance, Action
cast :
Lee Teuk as Ares
Kim Hyena as Iris
Lee Donghae as Him self
Cho Kyuhyun as Him self (sahabat Hye na)
Hedyarti N Asyah as Han Soo Won (sahabat Donghae)
co-cast :
Choi Siwon : Anubis
Lee Sungmin : Osiris
Yesung : Toth
Heechul : Sekhmet
Author's: Ervi Julia
Hye na melihat jam tangannya, pukul tujuh, ia hampir sampai didekat apartemennya ketika melihat Donghae berdiri di depan apartemennya. “donghae-ssi?” tanya hye na dalam hati. Ia sedikit berlari menuju Donghae. “donghae-ssi? Apa yang kau lakukan disini? Kau kemana tadi saat kita sedang latihan??” tanya hye na menyapa donghae. Donghae terdiam menatap hye na. matanya masih dingin, meski tak ada raut kemarahan. “kau mau masuk?” ajak hye na yang tanpa mendengar jawaban donghae langsung menarik tangan donghae.
hye na melepas tangan donghae dan mempersilahkan donghae duduk di sofa tamunya. Tapi donghae hanya berdiri menatap hye na. “donghae-ssi, apa kau ingin membicarakan sesuatu dengan ku? Jika tidak....” kata-kata hye na terhenti. Donghae menutup mulut hye na, menyudutkan hye na ke dinding. Hye na berontak melepas tangan donghae. “do..ng..hae..ssi.. ap..” hye na berkata terbata-bata, donghae makin menekap mulut hye na, menatap hye na makin dingin.
Donghae mendekatkan wajahnya ke wajah hye na, semakin dekat hingga hye na bisa merasakan hembusan nafas donghae. Tangan donghae yang satu lagi kini menahan tangan hye na didinding. Hye na menatap donghae panik, kentara sekali ketakutannya. Tatapan hye na melemah, tenaganya habis untuk berontak. Dengan cepat donghae tersadar dengan apa yang ia lakukan telah menyakiti hye na. ia mengendurkan tangannya.
Donghae menurunkan tangannya setelah sadar sepenuhnya, ia terduduk dibawah kaki hye na. hye na yang shock dengan perlakuan donghae pun ikut terduduk lemas. Hye na menatap donghae dengan takut, tapi ia mengulurkan tangannya menyentuh pundak donghae. Dengan lugas donghae berdiri mengambil tasnya, “mianhae, hye na.” kata donghae singkat lalu pergi keluar dari apartemen hye na. hye na hanya diam tarpaku. Tak mengerti apa yang terjadi dengan Donghae.
Tiba-tiba...
“dia lebih terlihat seperti dewa perang dibanding diriku.” Suara ares menggema. Bayangannya muncul dari arah tempat tidur hye na. hye na terhenyak tak percaya. Ia menepuk-nepuk pipinya. “bukan mimpi?” hye na bertanya pelan.
“kau tidak shock dengan perlakuannya?” ares berjalan mendekati hye na. tangannya ter ulur untuk membantu hye na. “kenapa dia melakukan itu pada mu? Pacarmu? Kasar sekali.” Ares berkomentar sambil membantu hye na berdiri. “dan kau lebih terlihat kaget dan takut saat melihatnya dibanding melihatku semalam.” Lanjutnya.
“apa maksudmu? tadi pagi kau sudah tidak berada dalam apartemenku, ku sangka itu mimpi. Susah sekali membedakan kenyataan dan mimpi sekarang. Lagipula aku bukan orang yang mudah shock dan dia bukan pacarku.” Hye na berkata sambil berjalan ke arah dapur.
Ares hanya mengangkat bahunya. “sebenarnya siapa kau? Untuk apa datang mengganggu ku?” tanya hye na. ares menyusul kilat ke dapur. “aku tidak mengganggumu, hanya saja kau orang pertama yang melihatku, entah mengapa, kau tidak takut denganku. Walau seperti yang kulihat dari komputermu, banyak data tentangku.” Jelas ares.
Hye na berkacak pinggang. “kau membuka laptopku? Bagaimana bisa?!” hye na sedikit berteriak. Ares tersenyum remeh, diujung bibirnya terdapat sebuah lesung pipi. “beneran ganteng ternyata.” Hye na berpikir tanpa sadar.
“aku ini dewa. bukan berarti tidak mengikuti perkembangan dunia manusia” Ares berkata sombong. “ dan.... aku ingin kau membantuku menemukan seseorang. Seorang dewi tepatnya. Mungkin kau tahu namanya, Iris.”.
Hye na mengerutkan dahinya. “seorang dewa meminta bantuanku? Dewi iris? Eksis! Hahaha.” Hye na gantian berkomentar sinis.
Ares menarik nafas panjang. “ia dihukum turun ke bumi karna suatu masalah yang tidak terlalu besar sebenarnya. Aku tak bisa menemukannya. Jadi aku butuh bantuan..... mu.”.
Hye na memandang remeh lalu makan apel yang diambilnya dari kulkas. “mana sayapmu?” tanya hye na mengalihkan pembicaraan. Ares menengok ke punggungnya. “ku sembunyikan.” Ares menjawab singkat, menunggu persetujuan hye na.
“disembunyikan? Bagaima.....” kata-kata hye na mengambang. Ares membuka bajunya dan meperlihatkan tato sayap dipunggungnya. Hye na termangu.
“baiklah! Apa yang bisa kubantu?” tanya hye na mengalihkan pandangannya. Ares memakai kembali bajunya. “pertama, aku butuh tempat tinggal.” Katanya singkat. “hah? Hahaha” hye na tertawa mendengar permintaan ares.
“tadi pagi kau pergi kemana? Dan aku harus memberitahu apa pada tetangga apartemenku yang lain tiba-tiba ada lelaki asing tinggal denganku?” tanya hye na tak berhenti.
“kau bisa bilang aku saudaramu.” Jawab ares, hye na mengangguk. “tadi pagi aku pergi mengecek tempat kekuatan iris ditanam.” Ares menjawab lagi pertanyaan hye na. hye na kembali mengangguk.
“baiklah, kubantu sebisaku. Tinggallah seperti dirumah sendiri. Aku ingin memasak. Ehmm apa kau makan seperti manusia?” tanya hye na penasaran dengan senyum jahilnya. Ares mengambil tangan hye na yang memegang apel, lalu menggigit apelnya, membuat hye na melongo. “oke, makan biasa saja.” Hye na berbalik badan dan siap memasak.
Hye na menata piring untuk dua orang di meja makan, perutnya sudah minta diisi dan badannya pun sudah minta diistirahatkan. Hye na baru saja akan memanggil ares ketika ia melihat Ares berdiri tegap di jendela, badan ares tidak terlalu kekar tapi sangat menarik. Ares termasuk tinggi. Dan rambutnya.... terlihat begitu halus.
Ares mengalihkan pandangannya dan berjalan mendekati hye na. hye na pun kembali fokus pada meja makan dan segera duduk. Ares duduk dihadapan hye na. caranya duduk sangat elegan. “selamat makan.” Kata hye na pelan. Ares mengangguk pelan.
Mereka makan dalam ketenangan. Sangat tenang bahkan. Ares makan dengan cepat namun tetap beraturan. Hye na melirik ares yang hampir selesai makan. Dan bberpikir untuk membuyarkan keheningan ini.
“aku pikir nama ares itu agak sedikit aneh untuk orang lain. Bagaimana jika kita mengganti namamu?” tanya hye na hati-hati. Ares yang sedang makan tenang meletakkan sumpitnya. “menurutmu begitu?” ares balik tanya. “bagaimana jika jung su? Atau lee teuk? Itu dua nama sepupuku sebenarnya.” Hye na memberikan tawaran.
“panggil aku ares saja. Aku sudah selesai makan. Gomawo.” Ares bangkit dari duduknya. Hye na membereskan meja makan, sedangkan ares kembali menatap jendela. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“aku tahu caranya.” Kata ares ketika berada didekat hye na.
ps. to be continue to part 4
cast :
Lee Teuk as Ares
Kim Hyena as Iris
Lee Donghae as Him self
Cho Kyuhyun as Him self (sahabat Hye na)
Hedyarti N Asyah as Han Soo Won (sahabat Donghae)
co-cast :
Choi Siwon : Anubis
Lee Sungmin : Osiris
Yesung : Toth
Heechul : Sekhmet
Author's: Ervi Julia
Hye na melihat jam tangannya, pukul tujuh, ia hampir sampai didekat apartemennya ketika melihat Donghae berdiri di depan apartemennya. “donghae-ssi?” tanya hye na dalam hati. Ia sedikit berlari menuju Donghae. “donghae-ssi? Apa yang kau lakukan disini? Kau kemana tadi saat kita sedang latihan??” tanya hye na menyapa donghae. Donghae terdiam menatap hye na. matanya masih dingin, meski tak ada raut kemarahan. “kau mau masuk?” ajak hye na yang tanpa mendengar jawaban donghae langsung menarik tangan donghae.
hye na melepas tangan donghae dan mempersilahkan donghae duduk di sofa tamunya. Tapi donghae hanya berdiri menatap hye na. “donghae-ssi, apa kau ingin membicarakan sesuatu dengan ku? Jika tidak....” kata-kata hye na terhenti. Donghae menutup mulut hye na, menyudutkan hye na ke dinding. Hye na berontak melepas tangan donghae. “do..ng..hae..ssi.. ap..” hye na berkata terbata-bata, donghae makin menekap mulut hye na, menatap hye na makin dingin.
Donghae mendekatkan wajahnya ke wajah hye na, semakin dekat hingga hye na bisa merasakan hembusan nafas donghae. Tangan donghae yang satu lagi kini menahan tangan hye na didinding. Hye na menatap donghae panik, kentara sekali ketakutannya. Tatapan hye na melemah, tenaganya habis untuk berontak. Dengan cepat donghae tersadar dengan apa yang ia lakukan telah menyakiti hye na. ia mengendurkan tangannya.
Donghae menurunkan tangannya setelah sadar sepenuhnya, ia terduduk dibawah kaki hye na. hye na yang shock dengan perlakuan donghae pun ikut terduduk lemas. Hye na menatap donghae dengan takut, tapi ia mengulurkan tangannya menyentuh pundak donghae. Dengan lugas donghae berdiri mengambil tasnya, “mianhae, hye na.” kata donghae singkat lalu pergi keluar dari apartemen hye na. hye na hanya diam tarpaku. Tak mengerti apa yang terjadi dengan Donghae.
Tiba-tiba...
“dia lebih terlihat seperti dewa perang dibanding diriku.” Suara ares menggema. Bayangannya muncul dari arah tempat tidur hye na. hye na terhenyak tak percaya. Ia menepuk-nepuk pipinya. “bukan mimpi?” hye na bertanya pelan.
“kau tidak shock dengan perlakuannya?” ares berjalan mendekati hye na. tangannya ter ulur untuk membantu hye na. “kenapa dia melakukan itu pada mu? Pacarmu? Kasar sekali.” Ares berkomentar sambil membantu hye na berdiri. “dan kau lebih terlihat kaget dan takut saat melihatnya dibanding melihatku semalam.” Lanjutnya.
“apa maksudmu? tadi pagi kau sudah tidak berada dalam apartemenku, ku sangka itu mimpi. Susah sekali membedakan kenyataan dan mimpi sekarang. Lagipula aku bukan orang yang mudah shock dan dia bukan pacarku.” Hye na berkata sambil berjalan ke arah dapur.
Ares hanya mengangkat bahunya. “sebenarnya siapa kau? Untuk apa datang mengganggu ku?” tanya hye na. ares menyusul kilat ke dapur. “aku tidak mengganggumu, hanya saja kau orang pertama yang melihatku, entah mengapa, kau tidak takut denganku. Walau seperti yang kulihat dari komputermu, banyak data tentangku.” Jelas ares.
Hye na berkacak pinggang. “kau membuka laptopku? Bagaimana bisa?!” hye na sedikit berteriak. Ares tersenyum remeh, diujung bibirnya terdapat sebuah lesung pipi. “beneran ganteng ternyata.” Hye na berpikir tanpa sadar.
“aku ini dewa. bukan berarti tidak mengikuti perkembangan dunia manusia” Ares berkata sombong. “ dan.... aku ingin kau membantuku menemukan seseorang. Seorang dewi tepatnya. Mungkin kau tahu namanya, Iris.”.
Hye na mengerutkan dahinya. “seorang dewa meminta bantuanku? Dewi iris? Eksis! Hahaha.” Hye na gantian berkomentar sinis.
Ares menarik nafas panjang. “ia dihukum turun ke bumi karna suatu masalah yang tidak terlalu besar sebenarnya. Aku tak bisa menemukannya. Jadi aku butuh bantuan..... mu.”.
Hye na memandang remeh lalu makan apel yang diambilnya dari kulkas. “mana sayapmu?” tanya hye na mengalihkan pembicaraan. Ares menengok ke punggungnya. “ku sembunyikan.” Ares menjawab singkat, menunggu persetujuan hye na.
“disembunyikan? Bagaima.....” kata-kata hye na mengambang. Ares membuka bajunya dan meperlihatkan tato sayap dipunggungnya. Hye na termangu.
“baiklah! Apa yang bisa kubantu?” tanya hye na mengalihkan pandangannya. Ares memakai kembali bajunya. “pertama, aku butuh tempat tinggal.” Katanya singkat. “hah? Hahaha” hye na tertawa mendengar permintaan ares.
“tadi pagi kau pergi kemana? Dan aku harus memberitahu apa pada tetangga apartemenku yang lain tiba-tiba ada lelaki asing tinggal denganku?” tanya hye na tak berhenti.
“kau bisa bilang aku saudaramu.” Jawab ares, hye na mengangguk. “tadi pagi aku pergi mengecek tempat kekuatan iris ditanam.” Ares menjawab lagi pertanyaan hye na. hye na kembali mengangguk.
“baiklah, kubantu sebisaku. Tinggallah seperti dirumah sendiri. Aku ingin memasak. Ehmm apa kau makan seperti manusia?” tanya hye na penasaran dengan senyum jahilnya. Ares mengambil tangan hye na yang memegang apel, lalu menggigit apelnya, membuat hye na melongo. “oke, makan biasa saja.” Hye na berbalik badan dan siap memasak.
Hye na menata piring untuk dua orang di meja makan, perutnya sudah minta diisi dan badannya pun sudah minta diistirahatkan. Hye na baru saja akan memanggil ares ketika ia melihat Ares berdiri tegap di jendela, badan ares tidak terlalu kekar tapi sangat menarik. Ares termasuk tinggi. Dan rambutnya.... terlihat begitu halus.
Ares mengalihkan pandangannya dan berjalan mendekati hye na. hye na pun kembali fokus pada meja makan dan segera duduk. Ares duduk dihadapan hye na. caranya duduk sangat elegan. “selamat makan.” Kata hye na pelan. Ares mengangguk pelan.
Mereka makan dalam ketenangan. Sangat tenang bahkan. Ares makan dengan cepat namun tetap beraturan. Hye na melirik ares yang hampir selesai makan. Dan bberpikir untuk membuyarkan keheningan ini.
“aku pikir nama ares itu agak sedikit aneh untuk orang lain. Bagaimana jika kita mengganti namamu?” tanya hye na hati-hati. Ares yang sedang makan tenang meletakkan sumpitnya. “menurutmu begitu?” ares balik tanya. “bagaimana jika jung su? Atau lee teuk? Itu dua nama sepupuku sebenarnya.” Hye na memberikan tawaran.
“panggil aku ares saja. Aku sudah selesai makan. Gomawo.” Ares bangkit dari duduknya. Hye na membereskan meja makan, sedangkan ares kembali menatap jendela. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“aku tahu caranya.” Kata ares ketika berada didekat hye na.
ps. to be continue to part 4



0 comment:
Posting Komentar