Jumat, 08 April 2011

"MARS" (Ares The God of War) part 1.




genre : Romance, Action

cast :
Lee Teuk as Ares
Kim Hyena as Iris
Lee Donghae as Him self
Cho Kyuhyun as Him self (sahabat Hye na)
Hedyarti N Asyah as Han Soo Won (sahabat Donghae)

co-cast :
Choi Siwon : Anubis
Lee Sungmin : Osiris
Yesung : Toth
Heechul : Sekhmet

Author's: Ervi Julia



*malam hari di apartemen Hye na
hye na menatap laptopnya lekat-lekat, membaca artikel tentang dewa-dewi Romawi kuno. satu dewa yang tak pernah luput dari bacaan Hye na adalah Mars, si dewa perang. sebenarnya Hye na sangat terobsesi dengan Mars. ia sudah membaca berulang-ulang semua artikel tentang Mars. entah apa yang membuat Hye na mengagumi Mars, hanya saja ia merasakan ketertarikan pada dewa yang satu ini. dewa yang dibilang tampan dan memaki jubah perang yang bercahaya.

Ketika sedang asik menbaca, tiba-tiba semua barang bergetar, bahkan lampu gantung kamar hye na berputar. hye na bangkit dari duduknya. “gempa!” pikirnya. hye na melongok ke arah jendela, namun tak ada orang yang keluar berlari panik. tak lama gempa pun berhenti. ia melihat pada jam dindingnya. pukul 2 dini hari. hye na menghela nafas panjang, namun sepertinya keadaan belum benar-benar baik. dari atas langit Hye na melihat sebuah benda meluncur cepat, api disekitarnya mengelilingi, bekas gesekan dengan atmosfir bumi. “asteroid? Bintang jatuh?” tebak Hye na, namun melihat benda langit itu menuju ke arahnya, Hye na cepat menghindar dari jendela. Hye na berjongkok dibawah meja belajarnya.

“BOOOOM!” benda itu berdebam menyentuh tanah. Kamarnya kembali bergetar. hye na semakin merapatkan tubuhnya. “still live, still live, still live.” Hye na mengulang kata-kata itu dalam hati dan pikirannya. Setelah lantai tak lagi bergetar, hye na bangkit dan melongok ke arah jendela dengan hati-hati. Setengah bagian taman rusak parah karna benda itu. Hye na bisa melihat jelas sebuah batu berwarna putih cemerlang yang sangat besar mendarat sukses. Hye na cepat-cepat mengambil jaketnya dan berlari menuju taman.

Hye na mendekati batu itu pelan-pelan, bentuknya seperti telur. Telur raksasa tepatnya. Hye na terdiam saat jaraknya hanya dua langkah dari batu itu. Hye na ingin lari, namun hati dan tubuhnya tak sejalan. Tangannya terulur mencoba menyentuh telur raksasa itu. Belum sempat tersentuh, telur raksasa itu terbelah. Ia mengeluarkan angin yang cukup kencang saat membelah. Hye na menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Mengintip melalui celah-celah jarinya.

Hye na terbelalak. Terlihat siluet manusia disana, namun sayap putih yang halus menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya. Hye na lagi-lagi mencoba menyentuhnya. Kali ini hye na berhasil menyentuhnya. Tapi, alangkah kagetnya hye na, sayap itu terentang lebar dihadapannya. Benar-benar seorang manusia dengan sayap di punggungnya. Seorang laki-laki tepatnya. Laki-laki itu diam tak bergeming.

Tubuh hye na membeku. Ia mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Hye na bingung tak habis pikir. Mimpi apa yang sedang ia alami. Kali ini tubuhnya menerima perintahnya, kakinya mundur menjauhi orang itu.

Laki-laki itu mengangkat wajahnya. Menatap Hye na dingin. Tubuh hye na kembali kaku. Laki-laki itu bangkit. Tangannya terulur ingin menyentuh hye na, hye na ingin berteriak namun tenggorokannya tercekat. laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju hye na, namun baru dua langkah ia terjatuh dihadapan hye na yang dengan spontan mendekat dan menangkap tubuhnya.

Hye na membopongnya masuk ke apartemen. Sayapnya tak lagi terentang meski masih lekat dengan punggungnya. Yang tak kalah membingungkan adalah, kemana semua orang? Tidakkah mereka mendengar dan melihat semua kejadian nihil ini??
 Tanpa melihat kebelakang, hye na masuk ke kamarnya. Ia mendudukan laki-laki bersayap itu di pinggir kasurnya. Hye na tidak melihat luka di badan laki-laki dihadapannya ini maka ia ikut duduk disampingnya. Menatap punggungnya. Laki-laki bersayap itu hanya tertunduk lemas.

Entah berapa lama mereka berdiam diri dalam pikiran masing-masing sampai jarum jam yang berputarpun mengisi kekosongan. Tiba-tiba laki-laki itu mengarahkan pandangannya kepada Hye na. Hye na tak siap dengan tatapannya, ia terpeleset dari tempat tidurnya, jatuh tepat dikaki laki-laki itu. Hye na mendongak saat tangan laki-laki itu terulur. Sebenarnya hye na tak terlalu yakin untuk menerimanya tapi hye na mengamitnya dan kembali duduk di samping laki-laki itu.

Wajahnya. Hye na merasa ia pernah mengenal laki-laki itu, entah dimana. Namun hye na pun tak yakin ia pernah melihat manusia bersayap disekitarnya. “si.. si.. siapa kamu?” tanya hye na membuka mulut.

“Ares.” Jawabnya singkat. “Ares?” hye na mengulang. Ares mengangguk. Hye na berpikir keras, nama itu tidak asing di telinga hye na. Tapi apa? Tanya hye na dalam hati. Ares menatap hye na sekali lagi, ia mengerutkan alisnya, bingung. Hye na asik dengan pikirannya, kemudian balas menatap ares. “wajahmu sangat tak asing. Aku pernah mengenalmu?” tanya hye na pada ares.

“kau. Apa kau tidak takut pada ku?” tanya ares tak menghiraukan pertanyaan hye na. “Takut bukan kata yang tepat sebenarnya. Aneh. Atau sebagainya mungkin.” Jelas hye na. Hye na menatap laptopnya. “astaga!” pekiknya tiba-tiba. Ia teringat sesuatu. “Ares.. Mars??” mulut hye na ternganga. Ia tak percaya! Ares adalah nama yunani dewa perang pujaannnya. Hye na pingsan diatas kasurnya. Ares hanya menatapnya dan menggelengkan kepala.

Ares membenarkan letak badan hye na. Ia melangkah menuju jendela. Tangannya terulur ke arah taman. Dalam sekejap mata, taman itu kembali dalam bentuk semula. saat melangkah menuju hye na, ares terjatuh. Kekuatannya terkuras. Dengan sedikit sisa kekuatannya, ares merentangkan sayapnya, yang lama-lama mengecil dan hilang. Masuk ke punggungnya. Sebuah tato sayap tergambar menggantikan sayapnya. Ares pun ikut pingsan dilantai kamar hye na hingga pagi menyapa.


ps. bersambung yah ke part 2
tenang partnya ga banyak kok ^_^

0 comment:

Posting Komentar

"MARS" (Ares The God of War) part 1.




genre : Romance, Action

cast :
Lee Teuk as Ares
Kim Hyena as Iris
Lee Donghae as Him self
Cho Kyuhyun as Him self (sahabat Hye na)
Hedyarti N Asyah as Han Soo Won (sahabat Donghae)

co-cast :
Choi Siwon : Anubis
Lee Sungmin : Osiris
Yesung : Toth
Heechul : Sekhmet

Author's: Ervi Julia



*malam hari di apartemen Hye na
hye na menatap laptopnya lekat-lekat, membaca artikel tentang dewa-dewi Romawi kuno. satu dewa yang tak pernah luput dari bacaan Hye na adalah Mars, si dewa perang. sebenarnya Hye na sangat terobsesi dengan Mars. ia sudah membaca berulang-ulang semua artikel tentang Mars. entah apa yang membuat Hye na mengagumi Mars, hanya saja ia merasakan ketertarikan pada dewa yang satu ini. dewa yang dibilang tampan dan memaki jubah perang yang bercahaya.

Ketika sedang asik menbaca, tiba-tiba semua barang bergetar, bahkan lampu gantung kamar hye na berputar. hye na bangkit dari duduknya. “gempa!” pikirnya. hye na melongok ke arah jendela, namun tak ada orang yang keluar berlari panik. tak lama gempa pun berhenti. ia melihat pada jam dindingnya. pukul 2 dini hari. hye na menghela nafas panjang, namun sepertinya keadaan belum benar-benar baik. dari atas langit Hye na melihat sebuah benda meluncur cepat, api disekitarnya mengelilingi, bekas gesekan dengan atmosfir bumi. “asteroid? Bintang jatuh?” tebak Hye na, namun melihat benda langit itu menuju ke arahnya, Hye na cepat menghindar dari jendela. Hye na berjongkok dibawah meja belajarnya.

“BOOOOM!” benda itu berdebam menyentuh tanah. Kamarnya kembali bergetar. hye na semakin merapatkan tubuhnya. “still live, still live, still live.” Hye na mengulang kata-kata itu dalam hati dan pikirannya. Setelah lantai tak lagi bergetar, hye na bangkit dan melongok ke arah jendela dengan hati-hati. Setengah bagian taman rusak parah karna benda itu. Hye na bisa melihat jelas sebuah batu berwarna putih cemerlang yang sangat besar mendarat sukses. Hye na cepat-cepat mengambil jaketnya dan berlari menuju taman.

Hye na mendekati batu itu pelan-pelan, bentuknya seperti telur. Telur raksasa tepatnya. Hye na terdiam saat jaraknya hanya dua langkah dari batu itu. Hye na ingin lari, namun hati dan tubuhnya tak sejalan. Tangannya terulur mencoba menyentuh telur raksasa itu. Belum sempat tersentuh, telur raksasa itu terbelah. Ia mengeluarkan angin yang cukup kencang saat membelah. Hye na menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Mengintip melalui celah-celah jarinya.

Hye na terbelalak. Terlihat siluet manusia disana, namun sayap putih yang halus menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya. Hye na lagi-lagi mencoba menyentuhnya. Kali ini hye na berhasil menyentuhnya. Tapi, alangkah kagetnya hye na, sayap itu terentang lebar dihadapannya. Benar-benar seorang manusia dengan sayap di punggungnya. Seorang laki-laki tepatnya. Laki-laki itu diam tak bergeming.

Tubuh hye na membeku. Ia mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Hye na bingung tak habis pikir. Mimpi apa yang sedang ia alami. Kali ini tubuhnya menerima perintahnya, kakinya mundur menjauhi orang itu.

Laki-laki itu mengangkat wajahnya. Menatap Hye na dingin. Tubuh hye na kembali kaku. Laki-laki itu bangkit. Tangannya terulur ingin menyentuh hye na, hye na ingin berteriak namun tenggorokannya tercekat. laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju hye na, namun baru dua langkah ia terjatuh dihadapan hye na yang dengan spontan mendekat dan menangkap tubuhnya.

Hye na membopongnya masuk ke apartemen. Sayapnya tak lagi terentang meski masih lekat dengan punggungnya. Yang tak kalah membingungkan adalah, kemana semua orang? Tidakkah mereka mendengar dan melihat semua kejadian nihil ini??
 Tanpa melihat kebelakang, hye na masuk ke kamarnya. Ia mendudukan laki-laki bersayap itu di pinggir kasurnya. Hye na tidak melihat luka di badan laki-laki dihadapannya ini maka ia ikut duduk disampingnya. Menatap punggungnya. Laki-laki bersayap itu hanya tertunduk lemas.

Entah berapa lama mereka berdiam diri dalam pikiran masing-masing sampai jarum jam yang berputarpun mengisi kekosongan. Tiba-tiba laki-laki itu mengarahkan pandangannya kepada Hye na. Hye na tak siap dengan tatapannya, ia terpeleset dari tempat tidurnya, jatuh tepat dikaki laki-laki itu. Hye na mendongak saat tangan laki-laki itu terulur. Sebenarnya hye na tak terlalu yakin untuk menerimanya tapi hye na mengamitnya dan kembali duduk di samping laki-laki itu.

Wajahnya. Hye na merasa ia pernah mengenal laki-laki itu, entah dimana. Namun hye na pun tak yakin ia pernah melihat manusia bersayap disekitarnya. “si.. si.. siapa kamu?” tanya hye na membuka mulut.

“Ares.” Jawabnya singkat. “Ares?” hye na mengulang. Ares mengangguk. Hye na berpikir keras, nama itu tidak asing di telinga hye na. Tapi apa? Tanya hye na dalam hati. Ares menatap hye na sekali lagi, ia mengerutkan alisnya, bingung. Hye na asik dengan pikirannya, kemudian balas menatap ares. “wajahmu sangat tak asing. Aku pernah mengenalmu?” tanya hye na pada ares.

“kau. Apa kau tidak takut pada ku?” tanya ares tak menghiraukan pertanyaan hye na. “Takut bukan kata yang tepat sebenarnya. Aneh. Atau sebagainya mungkin.” Jelas hye na. Hye na menatap laptopnya. “astaga!” pekiknya tiba-tiba. Ia teringat sesuatu. “Ares.. Mars??” mulut hye na ternganga. Ia tak percaya! Ares adalah nama yunani dewa perang pujaannnya. Hye na pingsan diatas kasurnya. Ares hanya menatapnya dan menggelengkan kepala.

Ares membenarkan letak badan hye na. Ia melangkah menuju jendela. Tangannya terulur ke arah taman. Dalam sekejap mata, taman itu kembali dalam bentuk semula. saat melangkah menuju hye na, ares terjatuh. Kekuatannya terkuras. Dengan sedikit sisa kekuatannya, ares merentangkan sayapnya, yang lama-lama mengecil dan hilang. Masuk ke punggungnya. Sebuah tato sayap tergambar menggantikan sayapnya. Ares pun ikut pingsan dilantai kamar hye na hingga pagi menyapa.


ps. bersambung yah ke part 2
tenang partnya ga banyak kok ^_^

0 komentar:

Posting Komentar

 
. Blogger Template by Ipietoon Blogger Template